Jakarta,Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, kalimat lelucon tersebut telah akrab di telinga yang artinya mengajak semua orang untuk melupakan masalah sejenak dengan tertawa. Hal ini benar, selain dapat membuat masalah terasa ringan, tertawa juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa tertawa dapat meringankan rasa sakit, mengurangi stres, dan meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Selain itu, tertawa juga bisa membakar hingga 40 kalori. Tapi ternyata ada bahaya di balik itu, tertawa terlalu keras bisa menyebabkan kematian.
Meski kedengarannya sangat tidak masuk akal, namun ini benar-benar bisa terjadi. Bukan karena tertawanya, melainkan reaksi tubuh akibat tertawa terbahak-bahak tersebut yang bisa saja membunuh Anda.
Seperti dilansir dari Times of India, berdasarkan data, ada 10 kasus di mana orang benar-benar meninggal karena tertawa. Beberapa kasus, sebagian bersifat historis dan belum terverifikasi. Sementara lainnya terjadi di masa modern dan telah terdokumentasi.
Salah satu dari kasus tersebut adalah Damnoen Saen-Um, seorang sopir truk es krim yang dikatakan tewas karena tertawa. Menurut penuturan sang istri, setelah dua menit tertawa tanpa henti, ia berhenti bernapas. Ditemukan bahwa ia meninggal karena gagal jantung.
Ada lebih dari satu alasan medis mengapa tertawa keras bisa menyebabkan kematian. Beberapa penyebabnya adalah serangan jantung, paru-paru hancur, hernia yang tersendat, stroke, dan kejang gelastis.
Kondisi lainnya adalah cataplexy, yaitu di mana seseorang dalam keadaan sadar tapi tidak mampu menggerakkan otot. Tapi fakta penting lainnya adalah tertawa bisa memicu cataplexy tapi bukan sebagai penyebabnya.
Tertawa juga bisa menyebabkan syncope atau pingsan. Pingsan bisa saja terjadi ketika seseorang merasa overexcited atau senang berlebihan dalam waktu lama yang kemudian menyebabkan pernapasan menjadi tidak normal sehingga menyebabkan peningkatan karbondioksida.
Masalah lainnya, saat kehilangan kontrol dalam tertawa, tertawa dapat menekan tubuh bagian dalam dan bisa menyebabkan kematian. Sumber: https://health.detik. com/read/2018/01/24/121022/3830830/763/hati-hati-tertawa-terbahak-bahak-bisa-berujung-kematian?_ga=2.130946250.473241950.1516765890-617721612.1516272748
Jakarta -
Aksi penculikan bocah di ITC Kuningan, Setiabudi, Jakarta
Selatan, terekam kamera CCTV. Korban gagal dibawa penculik setelah
ibunya mengetahui aksi itu.
Percobaan
penculikan itu terjadi pada Senin, 18 Desember 2017, sekitar pukul
13.00 WIB. Peristiwa berawal ketika seorang ibu membawa dua orang
anaknya, Rizgan (5) dan Emir (3).
"Emir itu hampir dibawa, tapi keburu ketahuan sama ibunya," kata Argo.
Argo
mengatakan ibu tersebut mendengar teriakan anaknya dan langsung
mengejar pelaku. Seketika pelaku langsung melepaskan Emir dari
gendongannya.
"Anaknya teriak-teriak 'tidak mau... tidak mau',
lalu ibunya mendengar dan mengejar. Saat itu juga pelaku langsung
melepaskan korban tanpa berkata apa-apa," papar Argo.
Orang tua
korban telah melaporkan kejadian itu ke Polsek Setiabudi. Saat ini
polisi masih menyelidiki kasus itu. "Nanti dicek rekaman CCTV-nya,"
tuturnya.
(mei/aan) Sumber: https://news.detik. com/berita/d-3776134/bocah-nyaris-diculik-di-itc-kuningan-aksi-pelaku-terekam-cctv
Jakarta -
Libur akhir tahun sebentar lagi, sudah punya tujuan untuk
berlibur? Jangan sampai melewatkan pergantian tahun dengan kegiatan
membosankan di rumah, ciptakanlah momen berharga untuk membuat hidup
semakin seru. Misalnya berlibur ke Yogyakarta dan menunggu malam
pergantian tahun bersama kerabat di sepanjang jalan Malioboro.
Meskipun
sama-sama bermain kembang api, tentu saja suasana dan keseruan bermain
kembang api saat di Jakarta sangat berbeda dengan suasana di Kota Gudeg.
Bahagiakan diri Anda dengan berlibur ke berbagai tempat wisata seru
seperti di Malioboro, Yogyakarta.
Saat berlibur ke Malioboro,
jangan lupa untuk mencicipi aneka kuliner lezat legendaries seperti,
Angkringan Lek Man, Gudeg Yu Djum, Lumpia Samijaya, lesehan terang
bulan, dan masih banyak lagi. Pastikan juga Anda tidak lupa ber-selfie di plang jalan Malioboro.
Sebab,
menghabiskan malam tahun baru di Jakarta akan terasa biasa saja. Namun
lain cerita bila Anda merencanakan liburan istimewa dan merasakan
keseruan pergantian tahun dengan suasana berbeda di tempat yang juga
berbeda. Sumber: https://news.detik. com/advertorial-news-block/3741929/serunya-liburan-akhir-tahun-di-kota-gudeg
Jakarta - Yang namanya ibu-ibu, baik ibu bekerja atau
ibu di rumah pasti banyak banget kegiatannya. Waktu 24 jam pun rasanya
kurang. Tapi jangan sampai kita nggak punya waktu untuk bonding sama
anak ya, Bun.
"Peran ibu nggak cuma merawat dan melindungi anak,
tapi saat bersama anak, di situ ibu memberikan kasih sayang dan nilai
moral," tutur psikolog Vera Itabiliana dalam konferensi pers 'Lotte
Choco Pie Bagikan Inspirasi dalam Menyambut Hari Ibu' di Suasana
Restaurant, Jl Setiabudi Utara Raya, Jakarta, Kamis (14/12/2017).
Nah, Vera punya tips nih, Bun, biar kira bisa bonding sama ai kecil di tengah kesibukan. Yuk, disimak bersama ya. 1. Sediakan Waktu Minimal 9 Menit Sehari
Di
antara kegiatan kita yang padat, yuk, Bun, kita sediakan waktu sembilan
menit saja untuk anak. Di waktu ini kita bisa mengajak anak-anak
mengobrol, bermain, apapun yang bisa bikin kita lebih dekat dengan si
kecil.
"Untuk bisa bonding, ibu perlu punya waktu khusus berdua
aja sama anak. Sebisa mungkin ini ada tiap hari. Setidaknya sembilan
menit, " kata Vera. 2. Pilih Waktu yang Sama-sama Rileks
Kapan
nih sembilan menitnya? Kata Vera, sebaiknya di waktu yang benar-benar
sedang rileks. Soalnya saat rileks akan lebih enak melakukan sesuatu
bersama, tidak diburu-buru sesuatu.
"Kalau bisa per anak. Mungkin pas bangun tidur atau sebelum tidur," lanjut Vera.
Jadi
kalau anaknya banyak berarti sebaiknya perlu menyiapkan waktu yang
lebih banyak lagi. Nah untuk bisa menyiapkan waktu itu berarti butuh
komitmen.
3. Punya Frekuensi yang Sama dengan Anak
Agar
punya premium bonding moment sama anak, maka kita perlu punya frekuensi
yang sama dengan anak. Jadi kita sebagai ibu perlu tahu apa yang sedang
tren di dunia anak, termasuk film apa yang ditonton, juga lagu yang
didengarkan anak. "Dengan ibu tahu, maka anak akan lebih merasa
ibunya mengerti si anak, merasa diperhatikan. Hal itu bisa membuat anak
merasa nyaman, sehingga nantinya akan gampang terbuka dan jadi yang
pertama tahu saat anak punya masalah," tutur Vera. (vit/rdn) Sumber : https://www.haibunda. com/aktivitas/d-3769858/tips-buat-ibu-yang-sibuk-biar-bisa-bonding-dengan-si-kecil
Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini dan tingkat “keampuhan” antibiotik yang menurun.
Wabah difteri makin meluas sehingga meneror masyarakat dan pemerintah Indonesia. Bakteri penyebab difteri menyebar dengan cepat tidak hanya di daerah yang layanan kesehatannya dinilai buruk, tapi juga menyerang warga di ibu kota, yang dianggap memiliki sistem layanan kesehatan jauh lebih baik.
Sejak Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri,
tersebar di 95 kabupaten dan kota di 20 provinsi, dengan angka kematian
32 kasus. Data World Health Organization (WHO) tentang penyakit difteri menunjukkan jumlah kasus difteri di Indonesia naik turun sejak 1980-an.
Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini (sekitar 75%) dan tingkat “keampuhan” antibiotik untuk melawan bakteri ini mulai ada penurunan.
Riset yang kami lakukan pada 2015 tentang pola resistensi antibiotik terhadap bakteri difteri menunjukkan kepekaan antibiotik penicillin terhadap difteri sebesar 84% dan kepekaan eritromisin sebesar 91,2%. Kepekaan antibiotik menunjukkan kemampuan daya bunuh antibiotik terhadap bakteri. Saat ini penisilin dan eritromisin adalah antibiotik pilihan untuk mengobati penyakit difteri.
Tingkat kepekaan antibiotik tersebut menurun dibanding hasil penelitian Robert C. Rockhill di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada 1982 yang menunjukkan antibiotik ampisilin, yang merupakan golongan penisilin, dan antibiotik eritromisin masih 100% sensitif terhadap difteri.
Indonesia perlu kajian lanjut dan mempertimbangkan tinjauan tata laksana pengobatan difteri.
Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan jumlah kasus penyakit ini meningkat sejak 2007 (183 kasus) dan puncaknya pada 2012 (1.192 kasus). Setelah itu menurun tapi angkanya masih ratusan kasus.
Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia. Difteri lebih sering menyerang anak–anak usia di bawah 12 tahun dan lebih berdampak fatal ketimbang saat menyerang orang dewasa.
Menular lewat udara
Difteri merupakan penyakit yang menular melalui udara yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
Bakteri ini menyerang saluran napas sebelah atas dengan gejala demam
tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan bernapas.
Bakteri
ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda
maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika masuk
dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin (racun). Toksin ini menyebar
melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh,
terutama jantung dan saraf serta dapat berakibat kematian. Karena itu,
satu saja ditemukan kasus difteri, pemerintah harus mengumumkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Mengapa kasus difteri
bertambah dan menyebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten? Pertanyaan
ini penting dijawab untuk menjelaskan secara ilmiah dan agar bisa
diambil tindakan yang tepat oleh pemerintah dan masyarakat. Penyebabnya
tidak tunggal sehingga tidak tepat menyatakan bahwa penyebaran difteri hanya dipengaruhi oleh satu faktor.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013 cakupan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus)
untuk anak berusia 2-6 tahun di Indonesia hanya 75,6% (idealnya di atas
90%). Artinya masih ada 24,6% anak yang belum diimunisasi yang
berpotensi terinfeksi difteri dan menjadi penyebab penyebaran difteri di sekitarnya.
Data
Riset Kesehatan Dasar 2013 juga menunjukkan beberapa provinsi dengan
cakupan imunisasi DPT-HB (Hepatitis B) yang rendah adalah Papua (40,8%),
Maluku (53,8%), dan Aceh (52,9%). Rendahnya cakupan imunisasi dasar
lengkap ini berdampak kekhawatiran timbulnya penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi(PD3I).
Koloni Corynebacterium diphtheriae (Wikimedia)
Adapun
data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan
yang diterbitkan pada 2016—memuat data rutin periode
2007-2015—menunjukkan cakupan imunisasi DPT pada 2013 adalah 99,3%,
lebih tinggi dari data Riset Kesehatan Dasar 2013. Seharusnya dengan
cakupan yang seperti itu dan potensi vaksin yang efektif, kasus difteri jarang atau tidak ditemukan.
Perbedaan
data ini disebabkan oleh perbedaan metode pengambilan data di lapangan.
Tapi kenyataanya tiap tahunnya kasus tersebut selalu ada dan
menimbulkan permasalahan kesehatan penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Karena itu, perlu kajian tentang bagaimana potensi
efektivitas vaksin DPT yang diberikan kepada anak-anak untuk menghambat
penyebaran bakteri.
Perlu juga dievaluasi bagaimana pola
distribusi vaksin dari pusat ke daerah (suhu penyimpanan dan
pengiriman). Sekali vaksin kehilangan potensinya, tidak akan dapat
diperbaiki dan vaksin tidak akan memberikan perlindungan terhadap
penyakit sesuai harapan. Vaksin sangat sensitif terhadap panas, beberapa
vaksin juga sensitif terhadap dingin (suhu beku).
Perlu dipertimbangkan faktor pola mobilisasi penduduk dari daerah-daerah yang terkena wabah difteri seperti dari Jawa Timur ke daerah Banten dan Jakarta Raya dan sebaliknya. Data Pusdatin menyebutkan 63% kasus difteri (dari 502 kasus di Indonesia) pada 2015 berasal dari Jawa Timur.
Imunisasi DPT adalah langkah yang tepat untuk mencegah difteri meluas. Tapi orang yang diimunisasi tidak serta merta terbebas dari serangan bakteri difteri, masih ada kemungkinan ia terinfeksi bakteri C. diphtheriae. Dampaknya walau seseorang terlindungi dan tidak sakit terhadap difteri, dia berpotensi sebagai penyebar penyakit.
Faktor non-medis dan pandangan masyarakat
Di luar faktor medis, sejumlah hal di bawah ini juga menjadi penyebab tidak langsung meningkatnya penyebaran penyakit difteri di masyarakat.
Banyak orang tua emoh terhadap efek yang ditimbulkan oleh imunisasi DPT terhadap anak seperti suhu badan anak menjadi panas.
Lingkungan padat dan jumlah anggota penghuni rumah yang banyak ikut menyebabkan pola penularan difteri lebih cepat.
Berita vaksin palsu yang merebak pada Juni 2016—walau telah ditangani oleh Kementerian Kesehatan dengan cara vaksinasi ulang di daerah beredarnya vaksin palsu—masih mempengaruhi pandangan sebagian masyarakat terhadap fungsi vaksin.
Pendidikan
rendah orang tua sangat mempengaruhi perilaku dan tingkat pengetahuan
mereka tentang cara hidup sehat dan bersih serta manfaat pemberian
imunisasi bagi anaknya.
Kurangnya gaya hidup sehat dan bersih yang ditanamkan di sekolah membuat banyak anak sekolah ketularan difteri di sekolah.
Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa vaksin itu haram walau hal tersebut telah diklarifikasi oleh pemerintah melalui Majelis Ulama Indonesia.
Adanya
pandangan bahwa kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap tubuh
individu. Sekarang tinggal bagaimana menjaganya dan bergaya hidup sehat,
sehingga tidak perlu imunisasi.
Kematian korban dan keampuhan serum anti-difteri
Pengobatan difteri membutuhkan serum anti-difteri dan antibiotik. Serum dan antibiotik diberikan bersamaan karena serum tidak dapat digunakan untuk mengeliminasi bakteri penyebab. Begitu juga sebaliknya, antibiotik tidak dapat menggantikan peran serum untuk menetralisasi toksin difteri.
Dalam hal ini, serum memiliki keterbatasan karena hanya dapat
menetralisasi toksin yang beredar atau belum berikatan dengan sel
(jaringan).
Oleh karena itu, serum anti-difteri harus segera diberikan ketika diagnosis difteri
ditemukan gejalanya. Serum akan efektif bila diberikan pada tiga hari
pertama sejak timbul gejala. Penundaan pemberian serum akan meningkatkan
risiko komplikasi dan kematian. Sementara itu, antibiotik dibutuhkan untuk membunuh bakteri penyebab dan mencegah penularan penyakit.
Masalahnya, ketika ada kasus difteri
di suatu daerah, serum harus tersedia dan cepat diberikan karena
berburu waktu dengan fatalnya penyakit tersebut. Sementara pemberian antibiotik pada pasien tertentu juga tidak menjamin karena bisa jadi sudah resisten.
Sampai saat ini penyakit difteri
merupakan penyakit yang tidak bisa sepenuhnya dihapuskan. Pemberian
imunisasi DPT merupakan salah satu cara pencegahan penyakit difteri dan tidak menghilangkan keberadaan bakteri jika seseorang terinfeksi. Pemerintah perlu mengevaluasi penanganan difteri dengan antibiotik dan serum. Indonesia perlu memastikan efektivitas antibiotik dan juga memastikan ketersediaan serum sehingga bisa cepat sampai tujuan. Kambang Sariadji, Researcher in Bacteriology, National Institute of Health Research and Development Ministry of Health Indonesia Sumber asli artikel ini dari The Conversation. .Kambang Sariadji/theconversation.com
Difteri kembali mewabah di
Indonesia. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status
kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh
bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban
jiwa setidaknya di 20 provinsi.
Data Kementerian Kesehatan
menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari
20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat
622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.
Sementara pada kurun
waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan
terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh,
Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Berikut hal-hal yang perlu anda ketahui tentang penyakit difteri:
Disebabkan bakteri menular dan berbahaya
Guru
Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jose Rizal Latief
Batubara menjelaskan difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae yang menular dan berbahaya.
Penyakit
ini bisa mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas atas a
toksinnya yang bersifat patogen, menimbulkan komplikasi miokarditis
(peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal,
gagal napas dan gagal sirkulasi.
"Difteri itu gejalanya radang
saluran nafas, ada selaput putih dan gampang berdarah, dan toksinnya itu
yang bahaya, bikin kelainan jantung, meninggal," katanya.
Difteri
menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi,
38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna
putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu
menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher
dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.
Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.
Penyakit lama yang muncul kembali
Difteri
sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya
yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga
kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika
diberikan setiap 10 tahun.
"Jadi sebenarnya bukan penyakit baru,
penyakit lama yang harusnya sudah hilang dengan vaksinasi, tapi karena
ada kelompok-kelompok anti vaksinasi yang banyak ini, nggak semua anak
lagi yang divaksin jadinya," ujar Jose.
Direktur Surveilans dan
Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi menjelaskan sejak tahun
1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru
muncul lagi pada tahun 2009.
Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit
Menular Tertentu, apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis dinyatakan
sebagai KLB.
"Satu kasus difteri, baru suspect saja, itu sudah
dianggap kejadian luar biasa, atau KLB, dimana di situ pemerintah harus
memastikan dilakukan tindakan-tindakan supaya tidak menyebar karena
sangat infectious (menular)," ujar Jane.
Penyebab mewabahnya difteri saat ini, menurut Jane, kurang efektifnya upaya-upaya untuk memastikan penyakit ini tidak menyebar.
"Dari tadinya beberapa kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2009, saat ini sudah 20 provinsi dengan 95 kabupaten," jelasnya.
Prosentase meninggal 6%
Dituturkan
Jane, sejak tahun 2015, jumlah kematian akibat difteri meningkat hingga
502 kasus. Untuk tahun ini saja, sejak Januari hingga November tercatat
lebih dari 590 kasus dengan prosentase kematian sekitar 6%.
"Ada
penurunan karena setiap kali ada laporan kasus difteri, maka itu
ketentuannya harus segera diperiksa ke laboratorium, apabila dalam
tenggorokannya ada selaput yang tebal itu, langsung diberi antibiotik.
Sementara orang-orang yang berada di sekitar juga harus diperiksa tanpa
menunggu hasil laboratorium dan diberikan imunisasi tetanus difteri,"
kata dia.
Artinya, orang-orang tersebut divaksinasi ulang tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya.
Indonesia
sudah melaksanakan program imunisasi -termasuk imunisasi difteri- sejak
lebih dari lima dasawarsa. Vaksin untuk imunisasi difteri ada tiga
jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada
usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar
pada bayi (di bawah sayu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib
dengan jarak satu bulan.
Selanjutnya, diberikan imunisasi
lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin
DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis
vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan satu dosis vaksin Td,
kemudian pada murid kelas 5 diberikan satu dosis vaksin Td.
"Sehingga
kita harus memastikan lagi ini semua kita minta masyarakat maupun
petugas kesehatan untuk memastikan anak-anak itu status imunisasinya
lengkap karena pencegahan satu-satunya difteri itu adalah imunisasi dan
kita tahu ada kelompok-kelompok yang menolak dan tidak sadar sehingga
anaknya tidak diimunisasi," jelas Jane. Juga menyerang orang dewasa
Sebelumnya,
kasus difteri banyak terjadi terhadap anak-anak. Namun kini Kementerian
Kesehatan juga menemukan meningkatnya kasus difteri yang terjadi pada
orang dewasa.
"Kita menduga karena imunisasi yang sudah begitu
luas, maka kuman difteri di Indonesia itu nampaknya populasinya sudah
semakin turun. Sehingga diduga booster alamiah sudah semakin kurang
sehingga mulailah ada orang yang sudah dimunisasi dasar, kena," kata
dia.
Di Indonesia, demografi usia yang memiliki kekebalan dasar
rata-rata berusia dibawah 40 tahun. Untuk usia di atas itu, sayangnya,
tidak mendapatkan imunisasi dasar ketika mereka kecil. Mereka lah yang
rentan terhadap penyakit ini. "Di negara maju ada imunisasi tetanus difteri setiap 10 tahun
sampai seumur hidup. Indonesia sedang mengarah ke sana, kita sedang
merancang akan melaksanakan ini,"
Sementara saat ini Indonesia
belum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa, yang dilakukan
Kementerian Kesehatan untuk mengatasi KLB difteri saat ini adalah
menghimbau orang tua, guru, petugas kesehatan, memastikan status
imunisasi lengkap.
"Yang tidak lengkap segera datang untuk
melengkapi. Kemudian jika ada satu kasus KLB, itu langsung diberikan
imunisasi Td di sekitarnya, itu harus, jangan sampai ada yang menolak.
Juga harus ada yang memastikan semua orang meminum antibiotik sampai
selesai dengan begitu kita bisa hentikan penyebarannya."
Kelompok penolak vaksin
Juru bicara Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi menambahkan munculnya KLB Difteri dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.
Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya
akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini
tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir
ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap
imunisasi.
"Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab
rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas
layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan
berbagai penyakit menular, termasuk difteri," ungkap Oscar.
Jose Batubara menegaskan pemerintah harus tegas terhadap kelompok-kelompok antivaksin ini.
"Mesti
dikasih peringatan. Termasuk ada beberapa artis yang hidup dengan
herbal aja, tanpa vaksin. Jadi banyak berkembangnya, tidak hanya di
kelompok Islam, tapi kelompok Kristen juga berkembang," kata dia.
Sumber : http://www.bbc. com/indonesia/majalah-42215042
Jakarta - Dua orang tua yang anaknya dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, mengakui belum memberi imunisasi difteri
kepada anak mereka. Sejak Januari hingga November 2017, RSPI Sulianti
Saroso telah merawat 61 pasien difteri, 3 di antaranya meninggal dunia.
Wajah
Santi Nurhayat, 34 tahun, warga Depok tampak lelah. Sudah empat malam
dia menginap di rumah sakit menjaga anaknya yang dirawat. "Iya agak
kecapekan udah beberapa hari nginep di sini," kata dia di Rumah Sakit
Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Rabu, 13 Desember
2017.
Anaknya yang berumur 3 tahun tengah dirawat di rumah sakit
tersebut sejak lima hari lalu. Santi mengatakan dokter mendiagnosa
anaknya mengidap Difteri.
Santi menceritakan anaknya mulai menunjukkan gejala sejak 6 Desember
silam. Awalnya, si anak hanya demam sekitar 38 derajat Celcius. Santi
lantas memberinya obat dan panas si anak kemudian menurun.
Keesokannya
panas si anak kembali naik. Gejala yang kemudian muncul adalah bibir
dan tenggorokan anaknya memerah. "Bibirnya kayak pakai lipstik.
Tenggorokannya juga jadi merah," kata dia.
Keesokan paginya, Santi
membawa anaknya berobat ke Puskesmas Beji, Depok. Pihak Puskesmas
kemudian merujuk anaknya ke RSUD Depok. RSUD Depok kemudian mendiagnosa
si anak menderita Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Warga
Depok lain, Fachrijal, juga tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso
karena Difteri. Pria berusia 25 tahun itu telah dirawat sejak Ahad, 12
Desember 2017.
Orang tua Fachrijal, Satiyah, 45 tahun mengatakan
pada awalnya anaknya hanya menunjukkan gejala demam dan sakit
tenggorokan. "Awalnya kirain sakit radang tenggorokan doang," kata dia
saat ditemui di RSPI Sulianti Saroso, dua hari lalu.
Satiyah
membawa anaknya berobat ke RSUD Depok yang kemudian merujuk Fachrijal ke
Rumah Sakit Permata, Depok. Rumah sakit mendiagnosa Fachrijal mengidap
Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Santi dan Satiyah
sama-sama mengakui belum melakukan imunisasi pada anaknya. Santi
mengatakan faktor ekonomi menjadi alasan dirinya tak melakukan
imunisasi. "Tapi semenjak anak saya sakit sekarang udah diimunisasi
semua kok," kata dia.
Satiyah lupa apakah anaknya sudah diimunisasi atau belum. Seingatnya, semasa sekolah anaknya sering mengikuti imunisasi.
Kedua
orang tua pasien Difteri itu bersyukur bahwa biaya rumah sakit
ditanggung pemerintah. Mereka juga lega kondisi anaknya kini sudah
semakin membaik. "Alhamdulillah anak saya sekarang sudah doyan makan,"
kata Santi.
Difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diptheriae. Bakteri tersebut menular lewat percikan air liur atau muntahan dari pasien yang dibawa oleh partikel debu.
Infeksi bakteri Difteri
ditandai dengan demam sekitar 38 derajat Celcius, sakit waktu menelan,
munculnya selaput di tenggorokan berwarna putih yang mudah berdarah jika
dilepaskan, dan terkadang disertai sesak nafas dan suara mengorok.
Penyakit ini juga sering ditandai dengan pembengkakan di kelenjar getah
bening leher. Sumber : https://metro.tempo. co/read/1042020/belum-imunisasi-dua-pasien-difteri-depok-diisolasi-di-rspi