Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Hati-hati, Tertawa Terbahak-Bahak Bisa Berujung Kematian


Jakarta, Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, kalimat lelucon tersebut telah akrab di telinga yang artinya mengajak semua orang untuk melupakan masalah sejenak dengan tertawa. Hal ini benar, selain dapat membuat masalah terasa ringan, tertawa juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa tertawa dapat meringankan rasa sakit, mengurangi stres, dan meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Selain itu, tertawa juga bisa membakar hingga 40 kalori. Tapi ternyata ada bahaya di balik itu, tertawa terlalu keras bisa menyebabkan kematian.

Meski kedengarannya sangat tidak masuk akal, namun ini benar-benar bisa terjadi. Bukan karena tertawanya, melainkan reaksi tubuh akibat tertawa terbahak-bahak tersebut yang bisa saja membunuh Anda.

Seperti dilansir dari Times of India, berdasarkan data, ada 10 kasus di mana orang benar-benar meninggal karena tertawa. Beberapa kasus, sebagian bersifat historis dan belum terverifikasi. Sementara lainnya terjadi di masa modern dan telah terdokumentasi.

Salah satu dari kasus tersebut adalah Damnoen Saen-Um, seorang sopir truk es krim yang dikatakan tewas karena tertawa. Menurut penuturan sang istri, setelah dua menit tertawa tanpa henti, ia berhenti bernapas. Ditemukan bahwa ia meninggal karena gagal jantung.

Ada lebih dari satu alasan medis mengapa tertawa keras bisa menyebabkan kematian. Beberapa penyebabnya adalah serangan jantung, paru-paru hancur, hernia yang tersendat, stroke, dan kejang gelastis.

Kondisi lainnya adalah cataplexy, yaitu di mana seseorang dalam keadaan sadar tapi tidak mampu menggerakkan otot. Tapi fakta penting lainnya adalah tertawa bisa memicu cataplexy tapi bukan sebagai penyebabnya.

Tertawa juga bisa menyebabkan syncope atau pingsan. Pingsan bisa saja terjadi ketika seseorang merasa overexcited atau senang berlebihan dalam waktu lama yang kemudian menyebabkan pernapasan menjadi tidak normal sehingga menyebabkan peningkatan karbondioksida.

Masalah lainnya, saat kehilangan kontrol dalam tertawa, tertawa dapat menekan tubuh bagian dalam dan bisa menyebabkan kematian.
Sumber: https://health.detik. com/read/2018/01/24/121022/3830830/763/hati-hati-tertawa-terbahak-bahak-bisa-berujung-kematian?_ga=2.130946250.473241950.1516765890-617721612.1516272748

Tips Buat Ibu yang Sibuk agar Bisa Bonding dengan si Kecil


Jakarta - Yang namanya ibu-ibu, baik ibu bekerja atau ibu di rumah pasti banyak banget kegiatannya. Waktu 24 jam pun rasanya kurang. Tapi jangan sampai kita nggak punya waktu untuk bonding sama anak ya, Bun.

"Peran ibu nggak cuma merawat dan melindungi anak, tapi saat bersama anak, di situ ibu memberikan kasih sayang dan nilai moral," tutur psikolog Vera Itabiliana dalam konferensi pers 'Lotte Choco Pie Bagikan Inspirasi dalam Menyambut Hari Ibu' di Suasana Restaurant, Jl Setiabudi Utara Raya, Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Nah, Vera punya tips nih, Bun, biar kira bisa bonding sama ai kecil di tengah kesibukan. Yuk, disimak bersama ya.

1. Sediakan Waktu Minimal 9 Menit Sehari

Di antara kegiatan kita yang padat, yuk, Bun, kita sediakan waktu sembilan menit saja untuk anak. Di waktu ini kita bisa mengajak anak-anak mengobrol, bermain, apapun yang bisa bikin kita lebih dekat dengan si kecil.

"Untuk bisa bonding, ibu perlu punya waktu khusus berdua aja sama anak. Sebisa mungkin ini ada tiap hari. Setidaknya sembilan menit, " kata Vera.

2. Pilih Waktu yang Sama-sama Rileks

Kapan nih sembilan menitnya? Kata Vera, sebaiknya di waktu yang benar-benar sedang rileks. Soalnya saat rileks akan lebih enak melakukan sesuatu bersama, tidak diburu-buru sesuatu.

"Kalau bisa per anak. Mungkin pas bangun tidur atau sebelum tidur," lanjut Vera.

Jadi kalau anaknya banyak berarti sebaiknya perlu menyiapkan waktu yang lebih banyak lagi. Nah untuk bisa menyiapkan waktu itu berarti butuh komitmen.

3. Punya Frekuensi yang Sama dengan Anak

Agar punya premium bonding moment sama anak, maka kita perlu punya frekuensi yang sama dengan anak. Jadi kita sebagai ibu perlu tahu apa yang sedang tren di dunia anak, termasuk film apa yang ditonton, juga lagu yang didengarkan anak.

"Dengan ibu tahu, maka anak akan lebih merasa ibunya mengerti si anak, merasa diperhatikan. Hal itu bisa membuat anak merasa nyaman, sehingga nantinya akan gampang terbuka dan jadi yang pertama tahu saat anak punya masalah," tutur Vera. (vit/rdn)
Sumber : https://www.haibunda. com/aktivitas/d-3769858/tips-buat-ibu-yang-sibuk-biar-bisa-bonding-dengan-si-kecil

Wabah Difteri di Indonesia: Antara Vaksinasi dan Antibiotik


Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini dan tingkat “keampuhan” antibiotik yang menurun.

Wabah difteri makin meluas sehingga meneror masyarakat dan pemerintah Indonesia. Bakteri penyebab difteri menyebar dengan cepat tidak hanya di daerah yang layanan kesehatannya dinilai buruk, tapi juga menyerang warga di ibu kota, yang dianggap memiliki sistem layanan kesehatan jauh lebih baik.
Sejak Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri, tersebar di 95 kabupaten dan kota di 20 provinsi, dengan angka kematian 32 kasus. Data World Health Organization (WHO) tentang penyakit difteri menunjukkan jumlah kasus difteri di Indonesia naik turun sejak 1980-an.
Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini (sekitar 75%) dan tingkat “keampuhan” antibiotik untuk melawan bakteri ini mulai ada penurunan.

Riset yang kami lakukan pada 2015 tentang pola resistensi antibiotik terhadap bakteri difteri menunjukkan kepekaan antibiotik penicillin terhadap difteri sebesar 84% dan kepekaan eritromisin sebesar 91,2%. Kepekaan antibiotik menunjukkan kemampuan daya bunuh antibiotik terhadap bakteri. Saat ini penisilin dan eritromisin adalah antibiotik pilihan untuk mengobati penyakit difteri.
Tingkat kepekaan antibiotik tersebut menurun dibanding hasil penelitian Robert C. Rockhill di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada 1982 yang menunjukkan antibiotik ampisilin, yang merupakan golongan penisilin, dan antibiotik eritromisin masih 100% sensitif terhadap difteri.

Indonesia perlu kajian lanjut dan mempertimbangkan tinjauan tata laksana pengobatan difteri.
Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan jumlah kasus penyakit ini meningkat sejak 2007 (183 kasus) dan puncaknya pada 2012 (1.192 kasus). Setelah itu menurun tapi angkanya masih ratusan kasus.


Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia. Difteri lebih sering menyerang anak–anak usia di bawah 12 tahun dan lebih berdampak fatal ketimbang saat menyerang orang dewasa.

Menular lewat udara

Difteri merupakan penyakit yang menular melalui udara yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menyerang saluran napas sebelah atas dengan gejala demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan bernapas.
Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin (racun). Toksin ini menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan saraf serta dapat berakibat kematian. Karena itu, satu saja ditemukan kasus difteri, pemerintah harus mengumumkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Mengapa kasus difteri bertambah dan menyebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten? Pertanyaan ini penting dijawab untuk menjelaskan secara ilmiah dan agar bisa diambil tindakan yang tepat oleh pemerintah dan masyarakat. Penyebabnya tidak tunggal sehingga tidak tepat menyatakan bahwa penyebaran difteri hanya dipengaruhi oleh satu faktor.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013 cakupan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) untuk anak berusia 2-6 tahun di Indonesia hanya 75,6% (idealnya di atas 90%). Artinya masih ada 24,6% anak yang belum diimunisasi yang berpotensi terinfeksi difteri dan menjadi penyebab penyebaran difteri di sekitarnya.
Data Riset Kesehatan Dasar 2013 juga menunjukkan beberapa provinsi dengan cakupan imunisasi DPT-HB (Hepatitis B) yang rendah adalah Papua (40,8%), Maluku (53,8%), dan Aceh (52,9%). Rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap ini berdampak kekhawatiran timbulnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi(PD3I).

Koloni Corynebacterium diphtheriae (Wikimedia)

Adapun data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan yang diterbitkan pada 2016—memuat data rutin periode 2007-2015—menunjukkan cakupan imunisasi DPT pada 2013 adalah 99,3%, lebih tinggi dari data Riset Kesehatan Dasar 2013. Seharusnya dengan cakupan yang seperti itu dan potensi vaksin yang efektif, kasus difteri jarang atau tidak ditemukan.
Perbedaan data ini disebabkan oleh perbedaan metode pengambilan data di lapangan. Tapi kenyataanya tiap tahunnya kasus tersebut selalu ada dan menimbulkan permasalahan kesehatan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Karena itu, perlu kajian tentang bagaimana potensi efektivitas vaksin DPT yang diberikan kepada anak-anak untuk menghambat penyebaran bakteri.
Perlu juga dievaluasi bagaimana pola distribusi vaksin dari pusat ke daerah (suhu penyimpanan dan pengiriman). Sekali vaksin kehilangan potensinya, tidak akan dapat diperbaiki dan vaksin tidak akan memberikan perlindungan terhadap penyakit sesuai harapan. Vaksin sangat sensitif terhadap panas, beberapa vaksin juga sensitif terhadap dingin (suhu beku).
Perlu dipertimbangkan faktor pola mobilisasi penduduk dari daerah-daerah yang terkena wabah difteri seperti dari Jawa Timur ke daerah Banten dan Jakarta Raya dan sebaliknya. Data Pusdatin menyebutkan 63% kasus difteri (dari 502 kasus di Indonesia) pada 2015 berasal dari Jawa Timur.
Imunisasi DPT adalah langkah yang tepat untuk mencegah difteri meluas. Tapi orang yang diimunisasi tidak serta merta terbebas dari serangan bakteri difteri, masih ada kemungkinan ia terinfeksi bakteri C. diphtheriae. Dampaknya walau seseorang terlindungi dan tidak sakit terhadap difteri, dia berpotensi sebagai penyebar penyakit.


Faktor non-medis dan pandangan masyarakat
Di luar faktor medis, sejumlah hal di bawah ini juga menjadi penyebab tidak langsung meningkatnya penyebaran penyakit difteri di masyarakat.
  1. Banyak orang tua emoh terhadap efek yang ditimbulkan oleh imunisasi DPT terhadap anak seperti suhu badan anak menjadi panas.
  2. Lingkungan padat dan jumlah anggota penghuni rumah yang banyak ikut menyebabkan pola penularan difteri lebih cepat.
  3. Berita vaksin palsu yang merebak pada Juni 2016—walau telah ditangani oleh Kementerian Kesehatan dengan cara vaksinasi ulang di daerah beredarnya vaksin palsu—masih mempengaruhi pandangan sebagian masyarakat terhadap fungsi vaksin.
  4. Pendidikan rendah orang tua sangat mempengaruhi perilaku dan tingkat pengetahuan mereka tentang cara hidup sehat dan bersih serta manfaat pemberian imunisasi bagi anaknya.
  5. Kurangnya gaya hidup sehat dan bersih yang ditanamkan di sekolah membuat banyak anak sekolah ketularan difteri di sekolah.
  6. Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa vaksin itu haram walau hal tersebut telah diklarifikasi oleh pemerintah melalui Majelis Ulama Indonesia.
  7. Adanya pandangan bahwa kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap tubuh individu. Sekarang tinggal bagaimana menjaganya dan bergaya hidup sehat, sehingga tidak perlu imunisasi.

Kematian korban dan keampuhan serum anti-difteri

Pengobatan difteri membutuhkan serum anti-difteri dan antibiotik. Serum dan antibiotik diberikan bersamaan karena serum tidak dapat digunakan untuk mengeliminasi bakteri penyebab. Begitu juga sebaliknya, antibiotik tidak dapat menggantikan peran serum untuk menetralisasi toksin difteri. Dalam hal ini, serum memiliki keterbatasan karena hanya dapat menetralisasi toksin yang beredar atau belum berikatan dengan sel (jaringan).
Oleh karena itu, serum anti-difteri harus segera diberikan ketika diagnosis difteri ditemukan gejalanya. Serum akan efektif bila diberikan pada tiga hari pertama sejak timbul gejala. Penundaan pemberian serum akan meningkatkan risiko komplikasi dan kematian. Sementara itu, antibiotik dibutuhkan untuk membunuh bakteri penyebab dan mencegah penularan penyakit.
Masalahnya, ketika ada kasus difteri di suatu daerah, serum harus tersedia dan cepat diberikan karena berburu waktu dengan fatalnya penyakit tersebut. Sementara pemberian antibiotik pada pasien tertentu juga tidak menjamin karena bisa jadi sudah resisten.
Sampai saat ini penyakit difteri merupakan penyakit yang tidak bisa sepenuhnya dihapuskan. Pemberian imunisasi DPT merupakan salah satu cara pencegahan penyakit difteri dan tidak menghilangkan keberadaan bakteri jika seseorang terinfeksi.
The ConversationPemerintah perlu mengevaluasi penanganan difteri dengan antibiotik dan serum. Indonesia perlu memastikan efektivitas antibiotik dan juga memastikan ketersediaan serum sehingga bisa cepat sampai tujuan.
Kambang Sariadji, Researcher in Bacteriology, National Institute of Health Research and Development Ministry of Health Indonesia
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. .Kambang Sariadji/theconversation.com
Sumber: http://nationalgeographic. co.id/berita/2017/12/wabah-difteri-di-indonesia-antara-vaksinasi-dan-antibiotik

Wabah difteri di 20 provinsi: Lima hal yang perlu anda ketahui


Difteri kembali mewabah di Indonesia. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.
Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.
Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.



Berikut hal-hal yang perlu anda ketahui tentang penyakit difteri:

Disebabkan bakteri menular dan berbahaya
Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jose Rizal Latief Batubara menjelaskan difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae yang menular dan berbahaya.
Penyakit ini bisa mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas atas a toksinnya yang bersifat patogen, menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi.

"Difteri itu gejalanya radang saluran nafas, ada selaput putih dan gampang berdarah, dan toksinnya itu yang bahaya, bikin kelainan jantung, meninggal," katanya.
Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, 38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.
Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.


Penyakit lama yang muncul kembali
Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika diberikan setiap 10 tahun.
"Jadi sebenarnya bukan penyakit baru, penyakit lama yang harusnya sudah hilang dengan vaksinasi, tapi karena ada kelompok-kelompok anti vaksinasi yang banyak ini, nggak semua anak lagi yang divaksin jadinya," ujar Jose.
Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi menjelaskan sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru muncul lagi pada tahun 2009.

Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis dinyatakan sebagai KLB.
"Satu kasus difteri, baru suspect saja, itu sudah dianggap kejadian luar biasa, atau KLB, dimana di situ pemerintah harus memastikan dilakukan tindakan-tindakan supaya tidak menyebar karena sangat infectious (menular)," ujar Jane.
Penyebab mewabahnya difteri saat ini, menurut Jane, kurang efektifnya upaya-upaya untuk memastikan penyakit ini tidak menyebar.
"Dari tadinya beberapa kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2009, saat ini sudah 20 provinsi dengan 95 kabupaten," jelasnya.

Prosentase meninggal 6%
Dituturkan Jane, sejak tahun 2015, jumlah kematian akibat difteri meningkat hingga 502 kasus. Untuk tahun ini saja, sejak Januari hingga November tercatat lebih dari 590 kasus dengan prosentase kematian sekitar 6%.
"Ada penurunan karena setiap kali ada laporan kasus difteri, maka itu ketentuannya harus segera diperiksa ke laboratorium, apabila dalam tenggorokannya ada selaput yang tebal itu, langsung diberi antibiotik. Sementara orang-orang yang berada di sekitar juga harus diperiksa tanpa menunggu hasil laboratorium dan diberikan imunisasi tetanus difteri," kata dia.
Artinya, orang-orang tersebut divaksinasi ulang tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya.
Indonesia sudah melaksanakan program imunisasi -termasuk imunisasi difteri- sejak lebih dari lima dasawarsa. Vaksin untuk imunisasi difteri ada tiga jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda.

Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah sayu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan.
Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan satu dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas 5 diberikan satu dosis vaksin Td.
"Sehingga kita harus memastikan lagi ini semua kita minta masyarakat maupun petugas kesehatan untuk memastikan anak-anak itu status imunisasinya lengkap karena pencegahan satu-satunya difteri itu adalah imunisasi dan kita tahu ada kelompok-kelompok yang menolak dan tidak sadar sehingga anaknya tidak diimunisasi," jelas Jane.

Juga menyerang orang dewasa
Sebelumnya, kasus difteri banyak terjadi terhadap anak-anak. Namun kini Kementerian Kesehatan juga menemukan meningkatnya kasus difteri yang terjadi pada orang dewasa.
"Kita menduga karena imunisasi yang sudah begitu luas, maka kuman difteri di Indonesia itu nampaknya populasinya sudah semakin turun. Sehingga diduga booster alamiah sudah semakin kurang sehingga mulailah ada orang yang sudah dimunisasi dasar, kena," kata dia.
Di Indonesia, demografi usia yang memiliki kekebalan dasar rata-rata berusia dibawah 40 tahun. Untuk usia di atas itu, sayangnya, tidak mendapatkan imunisasi dasar ketika mereka kecil. Mereka lah yang rentan terhadap penyakit ini.

"Di negara maju ada imunisasi tetanus difteri setiap 10 tahun sampai seumur hidup. Indonesia sedang mengarah ke sana, kita sedang merancang akan melaksanakan ini,"
Sementara saat ini Indonesia belum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa, yang dilakukan Kementerian Kesehatan untuk mengatasi KLB difteri saat ini adalah menghimbau orang tua, guru, petugas kesehatan, memastikan status imunisasi lengkap.
"Yang tidak lengkap segera datang untuk melengkapi. Kemudian jika ada satu kasus KLB, itu langsung diberikan imunisasi Td di sekitarnya, itu harus, jangan sampai ada yang menolak. Juga harus ada yang memastikan semua orang meminum antibiotik sampai selesai dengan begitu kita bisa hentikan penyebarannya."

Kelompok penolak vaksin
Juru bicara Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi menambahkan munculnya KLB Difteri dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.


Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi.

"Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk difteri," ungkap Oscar.
Jose Batubara menegaskan pemerintah harus tegas terhadap kelompok-kelompok antivaksin ini.
"Mesti dikasih peringatan. Termasuk ada beberapa artis yang hidup dengan herbal aja, tanpa vaksin. Jadi banyak berkembangnya, tidak hanya di kelompok Islam, tapi kelompok Kristen juga berkembang," kata dia. 
Sumber : http://www.bbc. com/indonesia/majalah-42215042

Belum Imunisasi, Dua Pasien Difteri Depok Diisolasi di RSPI


Jakarta - Dua orang tua yang anaknya dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, mengakui belum memberi imunisasi difteri kepada anak mereka. Sejak Januari hingga November 2017, RSPI Sulianti Saroso telah merawat 61 pasien difteri, 3 di antaranya meninggal dunia.
Wajah Santi Nurhayat, 34 tahun, warga Depok tampak lelah. Sudah empat malam dia menginap di rumah sakit menjaga anaknya yang dirawat. "Iya agak kecapekan udah beberapa hari nginep di sini," kata dia di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Rabu, 13 Desember 2017.
Anaknya yang berumur 3 tahun tengah dirawat di rumah sakit tersebut sejak lima hari lalu. Santi mengatakan dokter mendiagnosa anaknya mengidap Difteri.

Santi menceritakan anaknya mulai menunjukkan gejala sejak 6 Desember silam. Awalnya, si anak hanya demam sekitar 38 derajat Celcius. Santi lantas memberinya obat dan panas si anak kemudian menurun.
Keesokannya panas si anak kembali naik. Gejala yang kemudian muncul adalah bibir dan tenggorokan anaknya memerah. "Bibirnya kayak pakai lipstik. Tenggorokannya juga jadi merah," kata dia.

Keesokan paginya, Santi membawa anaknya berobat ke Puskesmas Beji, Depok. Pihak Puskesmas kemudian merujuk anaknya ke RSUD Depok. RSUD Depok kemudian mendiagnosa si anak menderita Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Warga Depok lain, Fachrijal, juga tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso karena Difteri. Pria berusia 25 tahun itu telah dirawat sejak Ahad, 12 Desember 2017.
Orang tua Fachrijal, Satiyah, 45 tahun mengatakan pada awalnya anaknya hanya menunjukkan gejala demam dan sakit tenggorokan. "Awalnya kirain sakit radang tenggorokan doang," kata dia saat ditemui di RSPI Sulianti Saroso, dua hari lalu.

Satiyah membawa anaknya berobat ke RSUD Depok yang kemudian merujuk Fachrijal ke Rumah Sakit Permata, Depok. Rumah sakit mendiagnosa Fachrijal mengidap Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Santi dan Satiyah sama-sama mengakui belum melakukan imunisasi pada anaknya. Santi mengatakan faktor ekonomi menjadi alasan dirinya tak melakukan imunisasi. "Tapi semenjak anak saya sakit sekarang udah diimunisasi semua kok," kata dia.
Satiyah lupa apakah anaknya sudah diimunisasi atau belum. Seingatnya, semasa sekolah anaknya sering mengikuti imunisasi.

Kedua orang tua pasien Difteri itu bersyukur bahwa biaya rumah sakit ditanggung pemerintah. Mereka juga lega kondisi anaknya kini sudah semakin membaik. "Alhamdulillah anak saya sekarang sudah doyan makan," kata Santi.
Difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diptheriae. Bakteri tersebut menular lewat percikan air liur atau muntahan dari pasien yang dibawa oleh partikel debu.

Infeksi bakteri Difteri ditandai dengan demam sekitar 38 derajat Celcius, sakit waktu menelan, munculnya selaput di tenggorokan berwarna putih yang mudah berdarah jika dilepaskan, dan terkadang disertai sesak nafas dan suara mengorok. Penyakit ini juga sering ditandai dengan pembengkakan di kelenjar getah bening leher.
Sumber : https://metro.tempo. co/read/1042020/belum-imunisasi-dua-pasien-difteri-depok-diisolasi-di-rspi

Pasien Difteri di RSPI Sulianti Saroso Bertambah Jadi 57


Jakarta - Pasien difteri yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso atau RSPI Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, bertambah menjadi 57 orang pada Kamis, 14 Desember 2017. Tiga hari lalu, jumlah pasien difteri yang dirawat berjumlah 33 orang.
Penderita difteri usia anak mendominasi pasien yang dirawat di RSPI Sulianti Saroso, yakni 41 orang. Pasien dewasa naik dari 11 menjadi 16 orang.
Direktur Medis dan Keperawatan RSPI Sulianti Saroso Dyani Kusumowardhani menuturkan 12 pasien dirawat sejak Selasa, 12 Desember 2017. Sedangkan 12 pasien lainnya dirawat pada Rabu, 13 Desember 2017.

Dyani belum bisa menyebutkan asal daerah pasien. "Masih kami data," katanya saat dihubungi Kamis.
Sejak Januari hingga November 2017, RSPI Sulianti Saroso telah merawat 61 pasien difteri. Tiga pasien di antaranya meninggal.

Saat mengunjungi RSPI Sulianti Saroso, Senin pekan ini, Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengatakan pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Nila mengatakan salah satu penyebab banyak anak-anak mengidap difteri adalah mereka belum imunisasi. Hal itu sesuai dengan data Kementerian Kesehatan, yang menyebutkan 66 persen penderita difteri belum melakukan imunisasi.
Sumber : https://metro.tempo. co/read/1042172/pasien-difteri-di-rspi-sulianti-saroso-bertambah-jadi-57

Pendapat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang Kejadian Luar Biasa Difteri



Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat obstruksi larings atau miokarditis akibat aktivasi eksotoksin. Pada kejadian luar biasa (KLB), selain difteri farings, tonsil, dan larings, telah pula dilaporkan terjadinya difteri hidung dan difteri kulit.
Difteri sangat menular melalui droplet dan penularan dapat terjadi tidak hanya dari penderita saja, namun juga dari karier (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya.
Kejadian luar biasa yang terjadi di Jawa Timur dan secara sporadik di daerah lain (Pontianak dan Banjarmasin) merupakan indikator bahwa program imunisasi nasional tidak mencapai sasaran. Oleh karena itu, dalam menghadapi dan mengatasi masalah difteri, kita harus memperbaiki pelaksanaan program imunisasi secara menyeluruh. Hal tersebut penting untuk mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan kesehatan, khususnya dokter spesialis  anak.

Analisis Situasi
Merebaknya  kasus difteri menimbulkan beberapa pertanyaan bagi klinisi yang harus dikaji mengapa hal tersebut dapat terjadi.
1.    Cakupan imunisasi gagal mencapai target
  • Apakah cakupan imunisasi DPT tidak cukup tinggi untuk mencegah penularan difteri? Data cakupan imunisasi di Indonesia sangat bervariasi bergantung dari mana dan oleh siapa survei tersebut dilakukan (78%-90%). Pencatatan yang dilaksanakan kurang akurat sehingga menghasilkan data yang kurang akurat pula. Catatan pada KMS atau Buku Catatan Kesehatan Anak tidak diisi dengan baik oleh petugas kesehatan yang melakukan imunisasi dan tidak disimpan dengan baik oleh orang tua, sehingga sulit diketahui apakah imunisasi anaknya sudah lengkap atau belum.
  • Adanya negative campaign sebagai gerakan anti imunisasi yang marak akhir-akhir ini telah menyebabkan banyak orang tua menolak anaknya diimunisasi. Program imunisasi sebagai program nasional seharusnya diikuti dan dilaksanakan oleh semua masyarakat. Maka kelompok anti vaksinasi perlu diatasi dengan cara pendekatan tersendiri dan terencana.
2.    Imunisasi gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak
  • Apakah imunisasi tidak lengkap? Apakah imunisasi ulangan tidak diberikan? Vaksin DPT merupakan vaksin mati sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi menetap tinggi di atas ambang pencegahan, sangat diperlukan kelengkapan ataupun pemberian imunisasi ulangan. Imunisasi DPT lima kali harus dipatuhi sebelum anak berumur 6 tahun.
  • Apakah petugas kesehatan tidak memberikan imunisasi pada anak yang menderita sakit ringan sehingga mengakibatkan pemberian imunisasi tidak sesuai jadwal atau bahkan tidak diberikan? Kontra indikasi absolut imunisasi adalah defisiensi imun dan pernah menderita syok anafilaksis pada imunisasi terdahulu. Sedangkan demam tinggi atau sedang dirawat karena penyakit berat merupakan kontra indikasi sementara, sehingga anak tetap harus diimunisasi apabila telah sembuh. Jangan sampai terjadi missed opportunity untuk memberikan imunisasi hanya karena alasan anak sering sakit.
  • Apakah cold chain di semua fasilitas kesehatan telah diperhatikan dengan baik? Vaksin Bio Farma yang dipergunakan untuk program imunisasi nasional telah  dilengkapi dengan vaccine vial monitor (VVM) yang ditempelkan pada botol vaksin untuk monitor suhu vaksin. Petugas medis diharapkan memperhatikan VVM, tanggal kadaluwarsa dan keadaan vaksin (endapan, gumpalan)  sebelum disuntikkan. Penyimpanan dan transportasi  vaksin harus memperhatikan prosedur baku cold chain, karena vaksin DPT akan rusak bila membeku atau dibawah 20 C, atau terpapar suhu di atas 80 C. Hal tersebut perlu mendapat perhatian para petugas kesehatan baik di rumah sakit, rumah bersalin, ataupun klinik pribadi.
Penanggulangan dari aspek pencegahan

Upaya pencegahan harus dilakukan bersama-sama dengan  tindakan deteksi dini kasus, pengobatan kasus, rujukan ke rumah sakit, mencegah penularan, dan memberantas karier. Upaya pencegahan dapat ditujukan kepada anggota IDAI dan kepada masyarakat.
Untuk anggota IDAI
a. Jangka pendek
  • Di daerah KLB dilakukan outbreak response immunization (ORI), yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT kepada semua anak berumur <15 tahun yang tinggal di daerah KLB (umur 2-7 tahun diberikan DPT, >7 tahun diberikan DT atau dT).
  • Di daerah non-KLB diperlukan kesiapsiagaan dengan memperhatikan kelengkapan status imunisasi setiap anak yang berobat. Segera lengkapi apabila status imunisasi belum lengkap (3x sebelum umur 1 tahun, 1x pada tahun kedua, 1x pada umur 5 tahun atau sebelum masuk sekolah dasar).  Selain itu perlu juga dilengkapi imunisasi  yang lainnya.
b. Jangka panjang, untuk daerah KLB perlu dilakukan gerakan imunisasi terpadu untuk meningkatkan cakupan imunisasi DPT sehingga mencapai 95% dari target anak <15 tahun.
c. Seluruh anggota IDAI harus membantu pelaksanaan tindakan preventif dan kuratif terhadap difteri dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media lokal seperti radio, TV, surat kabar, atau majalah, serta menyebarkan leaflet berisi penjelasan tentang penyakit, penanggulangan serta pencegahannya.
d. Seluruh anggota IDAI diharapkan bersedia membantu Pemerintah Daerah setempat untuk bersama-sama menanggulangi difteri secara khusus dan meningkatkan cakupan imunisasi di daerah terkait. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan kerjasama IDAI Cabang, IDI wilayah, dan IBI wilayah.
e. Seluruh anggota IDAI memantau adanya kasus difteri di daerah masing-masing dan segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan setempat apabila ditemukan kecurigaan kasus.
Untuk masyarakat
a. Kenali gejala awal difteri.
b. Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur < 15 tahun.
c. Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteria agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteria.
d. Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan (eritromisin 50mg/kg berat badan selama 5 hari).
e. Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT.
  • Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing 4 minggu.
  • Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang),
  • Apabila telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan 1x.
f. Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol  sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.


 Penutup
  • Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Edukasi mengenai imunisasi harus senantiasa diberikan oleh setiap petugas kesehatan pada setiap kesempatan bertemu orang tua pasien.
  • Seluruh anggota IDAI diharapkan turut berpartisipasi aktif dalam memberantas difteri dan meningkatkan cakupan imunisasi DPT.
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia
Satuan Tugas Imunisasi
Sumber: http://www.idai.or .id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri