Jakarta,Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, kalimat lelucon tersebut telah akrab di telinga yang artinya mengajak semua orang untuk melupakan masalah sejenak dengan tertawa. Hal ini benar, selain dapat membuat masalah terasa ringan, tertawa juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa tertawa dapat meringankan rasa sakit, mengurangi stres, dan meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Selain itu, tertawa juga bisa membakar hingga 40 kalori. Tapi ternyata ada bahaya di balik itu, tertawa terlalu keras bisa menyebabkan kematian.
Meski kedengarannya sangat tidak masuk akal, namun ini benar-benar bisa terjadi. Bukan karena tertawanya, melainkan reaksi tubuh akibat tertawa terbahak-bahak tersebut yang bisa saja membunuh Anda.
Seperti dilansir dari Times of India, berdasarkan data, ada 10 kasus di mana orang benar-benar meninggal karena tertawa. Beberapa kasus, sebagian bersifat historis dan belum terverifikasi. Sementara lainnya terjadi di masa modern dan telah terdokumentasi.
Salah satu dari kasus tersebut adalah Damnoen Saen-Um, seorang sopir truk es krim yang dikatakan tewas karena tertawa. Menurut penuturan sang istri, setelah dua menit tertawa tanpa henti, ia berhenti bernapas. Ditemukan bahwa ia meninggal karena gagal jantung.
Ada lebih dari satu alasan medis mengapa tertawa keras bisa menyebabkan kematian. Beberapa penyebabnya adalah serangan jantung, paru-paru hancur, hernia yang tersendat, stroke, dan kejang gelastis.
Kondisi lainnya adalah cataplexy, yaitu di mana seseorang dalam keadaan sadar tapi tidak mampu menggerakkan otot. Tapi fakta penting lainnya adalah tertawa bisa memicu cataplexy tapi bukan sebagai penyebabnya.
Tertawa juga bisa menyebabkan syncope atau pingsan. Pingsan bisa saja terjadi ketika seseorang merasa overexcited atau senang berlebihan dalam waktu lama yang kemudian menyebabkan pernapasan menjadi tidak normal sehingga menyebabkan peningkatan karbondioksida.
Masalah lainnya, saat kehilangan kontrol dalam tertawa, tertawa dapat menekan tubuh bagian dalam dan bisa menyebabkan kematian. Sumber: https://health.detik. com/read/2018/01/24/121022/3830830/763/hati-hati-tertawa-terbahak-bahak-bisa-berujung-kematian?_ga=2.130946250.473241950.1516765890-617721612.1516272748
Jakarta - Yang namanya ibu-ibu, baik ibu bekerja atau
ibu di rumah pasti banyak banget kegiatannya. Waktu 24 jam pun rasanya
kurang. Tapi jangan sampai kita nggak punya waktu untuk bonding sama
anak ya, Bun.
"Peran ibu nggak cuma merawat dan melindungi anak,
tapi saat bersama anak, di situ ibu memberikan kasih sayang dan nilai
moral," tutur psikolog Vera Itabiliana dalam konferensi pers 'Lotte
Choco Pie Bagikan Inspirasi dalam Menyambut Hari Ibu' di Suasana
Restaurant, Jl Setiabudi Utara Raya, Jakarta, Kamis (14/12/2017).
Nah, Vera punya tips nih, Bun, biar kira bisa bonding sama ai kecil di tengah kesibukan. Yuk, disimak bersama ya. 1. Sediakan Waktu Minimal 9 Menit Sehari
Di
antara kegiatan kita yang padat, yuk, Bun, kita sediakan waktu sembilan
menit saja untuk anak. Di waktu ini kita bisa mengajak anak-anak
mengobrol, bermain, apapun yang bisa bikin kita lebih dekat dengan si
kecil.
"Untuk bisa bonding, ibu perlu punya waktu khusus berdua
aja sama anak. Sebisa mungkin ini ada tiap hari. Setidaknya sembilan
menit, " kata Vera. 2. Pilih Waktu yang Sama-sama Rileks
Kapan
nih sembilan menitnya? Kata Vera, sebaiknya di waktu yang benar-benar
sedang rileks. Soalnya saat rileks akan lebih enak melakukan sesuatu
bersama, tidak diburu-buru sesuatu.
"Kalau bisa per anak. Mungkin pas bangun tidur atau sebelum tidur," lanjut Vera.
Jadi
kalau anaknya banyak berarti sebaiknya perlu menyiapkan waktu yang
lebih banyak lagi. Nah untuk bisa menyiapkan waktu itu berarti butuh
komitmen.
3. Punya Frekuensi yang Sama dengan Anak
Agar
punya premium bonding moment sama anak, maka kita perlu punya frekuensi
yang sama dengan anak. Jadi kita sebagai ibu perlu tahu apa yang sedang
tren di dunia anak, termasuk film apa yang ditonton, juga lagu yang
didengarkan anak. "Dengan ibu tahu, maka anak akan lebih merasa
ibunya mengerti si anak, merasa diperhatikan. Hal itu bisa membuat anak
merasa nyaman, sehingga nantinya akan gampang terbuka dan jadi yang
pertama tahu saat anak punya masalah," tutur Vera. (vit/rdn) Sumber : https://www.haibunda. com/aktivitas/d-3769858/tips-buat-ibu-yang-sibuk-biar-bisa-bonding-dengan-si-kecil
Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini dan tingkat “keampuhan” antibiotik yang menurun.
Wabah difteri makin meluas sehingga meneror masyarakat dan pemerintah Indonesia. Bakteri penyebab difteri menyebar dengan cepat tidak hanya di daerah yang layanan kesehatannya dinilai buruk, tapi juga menyerang warga di ibu kota, yang dianggap memiliki sistem layanan kesehatan jauh lebih baik.
Sejak Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri,
tersebar di 95 kabupaten dan kota di 20 provinsi, dengan angka kematian
32 kasus. Data World Health Organization (WHO) tentang penyakit difteri menunjukkan jumlah kasus difteri di Indonesia naik turun sejak 1980-an.
Penyebab wabah difteri, antara lain, imunisasi anti difteri yang belum menyentuh seluruh anak di negeri ini (sekitar 75%) dan tingkat “keampuhan” antibiotik untuk melawan bakteri ini mulai ada penurunan.
Riset yang kami lakukan pada 2015 tentang pola resistensi antibiotik terhadap bakteri difteri menunjukkan kepekaan antibiotik penicillin terhadap difteri sebesar 84% dan kepekaan eritromisin sebesar 91,2%. Kepekaan antibiotik menunjukkan kemampuan daya bunuh antibiotik terhadap bakteri. Saat ini penisilin dan eritromisin adalah antibiotik pilihan untuk mengobati penyakit difteri.
Tingkat kepekaan antibiotik tersebut menurun dibanding hasil penelitian Robert C. Rockhill di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada 1982 yang menunjukkan antibiotik ampisilin, yang merupakan golongan penisilin, dan antibiotik eritromisin masih 100% sensitif terhadap difteri.
Indonesia perlu kajian lanjut dan mempertimbangkan tinjauan tata laksana pengobatan difteri.
Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan jumlah kasus penyakit ini meningkat sejak 2007 (183 kasus) dan puncaknya pada 2012 (1.192 kasus). Setelah itu menurun tapi angkanya masih ratusan kasus.
Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia. Difteri lebih sering menyerang anak–anak usia di bawah 12 tahun dan lebih berdampak fatal ketimbang saat menyerang orang dewasa.
Menular lewat udara
Difteri merupakan penyakit yang menular melalui udara yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
Bakteri ini menyerang saluran napas sebelah atas dengan gejala demam
tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, dan kesulitan bernapas.
Bakteri
ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda
maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika masuk
dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin (racun). Toksin ini menyebar
melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh,
terutama jantung dan saraf serta dapat berakibat kematian. Karena itu,
satu saja ditemukan kasus difteri, pemerintah harus mengumumkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Mengapa kasus difteri
bertambah dan menyebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten? Pertanyaan
ini penting dijawab untuk menjelaskan secara ilmiah dan agar bisa
diambil tindakan yang tepat oleh pemerintah dan masyarakat. Penyebabnya
tidak tunggal sehingga tidak tepat menyatakan bahwa penyebaran difteri hanya dipengaruhi oleh satu faktor.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013 cakupan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus)
untuk anak berusia 2-6 tahun di Indonesia hanya 75,6% (idealnya di atas
90%). Artinya masih ada 24,6% anak yang belum diimunisasi yang
berpotensi terinfeksi difteri dan menjadi penyebab penyebaran difteri di sekitarnya.
Data
Riset Kesehatan Dasar 2013 juga menunjukkan beberapa provinsi dengan
cakupan imunisasi DPT-HB (Hepatitis B) yang rendah adalah Papua (40,8%),
Maluku (53,8%), dan Aceh (52,9%). Rendahnya cakupan imunisasi dasar
lengkap ini berdampak kekhawatiran timbulnya penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi(PD3I).
Koloni Corynebacterium diphtheriae (Wikimedia)
Adapun
data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan
yang diterbitkan pada 2016—memuat data rutin periode
2007-2015—menunjukkan cakupan imunisasi DPT pada 2013 adalah 99,3%,
lebih tinggi dari data Riset Kesehatan Dasar 2013. Seharusnya dengan
cakupan yang seperti itu dan potensi vaksin yang efektif, kasus difteri jarang atau tidak ditemukan.
Perbedaan
data ini disebabkan oleh perbedaan metode pengambilan data di lapangan.
Tapi kenyataanya tiap tahunnya kasus tersebut selalu ada dan
menimbulkan permasalahan kesehatan penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Karena itu, perlu kajian tentang bagaimana potensi
efektivitas vaksin DPT yang diberikan kepada anak-anak untuk menghambat
penyebaran bakteri.
Perlu juga dievaluasi bagaimana pola
distribusi vaksin dari pusat ke daerah (suhu penyimpanan dan
pengiriman). Sekali vaksin kehilangan potensinya, tidak akan dapat
diperbaiki dan vaksin tidak akan memberikan perlindungan terhadap
penyakit sesuai harapan. Vaksin sangat sensitif terhadap panas, beberapa
vaksin juga sensitif terhadap dingin (suhu beku).
Perlu dipertimbangkan faktor pola mobilisasi penduduk dari daerah-daerah yang terkena wabah difteri seperti dari Jawa Timur ke daerah Banten dan Jakarta Raya dan sebaliknya. Data Pusdatin menyebutkan 63% kasus difteri (dari 502 kasus di Indonesia) pada 2015 berasal dari Jawa Timur.
Imunisasi DPT adalah langkah yang tepat untuk mencegah difteri meluas. Tapi orang yang diimunisasi tidak serta merta terbebas dari serangan bakteri difteri, masih ada kemungkinan ia terinfeksi bakteri C. diphtheriae. Dampaknya walau seseorang terlindungi dan tidak sakit terhadap difteri, dia berpotensi sebagai penyebar penyakit.
Faktor non-medis dan pandangan masyarakat
Di luar faktor medis, sejumlah hal di bawah ini juga menjadi penyebab tidak langsung meningkatnya penyebaran penyakit difteri di masyarakat.
Banyak orang tua emoh terhadap efek yang ditimbulkan oleh imunisasi DPT terhadap anak seperti suhu badan anak menjadi panas.
Lingkungan padat dan jumlah anggota penghuni rumah yang banyak ikut menyebabkan pola penularan difteri lebih cepat.
Berita vaksin palsu yang merebak pada Juni 2016—walau telah ditangani oleh Kementerian Kesehatan dengan cara vaksinasi ulang di daerah beredarnya vaksin palsu—masih mempengaruhi pandangan sebagian masyarakat terhadap fungsi vaksin.
Pendidikan
rendah orang tua sangat mempengaruhi perilaku dan tingkat pengetahuan
mereka tentang cara hidup sehat dan bersih serta manfaat pemberian
imunisasi bagi anaknya.
Kurangnya gaya hidup sehat dan bersih yang ditanamkan di sekolah membuat banyak anak sekolah ketularan difteri di sekolah.
Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa vaksin itu haram walau hal tersebut telah diklarifikasi oleh pemerintah melalui Majelis Ulama Indonesia.
Adanya
pandangan bahwa kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap tubuh
individu. Sekarang tinggal bagaimana menjaganya dan bergaya hidup sehat,
sehingga tidak perlu imunisasi.
Kematian korban dan keampuhan serum anti-difteri
Pengobatan difteri membutuhkan serum anti-difteri dan antibiotik. Serum dan antibiotik diberikan bersamaan karena serum tidak dapat digunakan untuk mengeliminasi bakteri penyebab. Begitu juga sebaliknya, antibiotik tidak dapat menggantikan peran serum untuk menetralisasi toksin difteri.
Dalam hal ini, serum memiliki keterbatasan karena hanya dapat
menetralisasi toksin yang beredar atau belum berikatan dengan sel
(jaringan).
Oleh karena itu, serum anti-difteri harus segera diberikan ketika diagnosis difteri
ditemukan gejalanya. Serum akan efektif bila diberikan pada tiga hari
pertama sejak timbul gejala. Penundaan pemberian serum akan meningkatkan
risiko komplikasi dan kematian. Sementara itu, antibiotik dibutuhkan untuk membunuh bakteri penyebab dan mencegah penularan penyakit.
Masalahnya, ketika ada kasus difteri
di suatu daerah, serum harus tersedia dan cepat diberikan karena
berburu waktu dengan fatalnya penyakit tersebut. Sementara pemberian antibiotik pada pasien tertentu juga tidak menjamin karena bisa jadi sudah resisten.
Sampai saat ini penyakit difteri
merupakan penyakit yang tidak bisa sepenuhnya dihapuskan. Pemberian
imunisasi DPT merupakan salah satu cara pencegahan penyakit difteri dan tidak menghilangkan keberadaan bakteri jika seseorang terinfeksi. Pemerintah perlu mengevaluasi penanganan difteri dengan antibiotik dan serum. Indonesia perlu memastikan efektivitas antibiotik dan juga memastikan ketersediaan serum sehingga bisa cepat sampai tujuan. Kambang Sariadji, Researcher in Bacteriology, National Institute of Health Research and Development Ministry of Health Indonesia Sumber asli artikel ini dari The Conversation. .Kambang Sariadji/theconversation.com
Difteri kembali mewabah di
Indonesia. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status
kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh
bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban
jiwa setidaknya di 20 provinsi.
Data Kementerian Kesehatan
menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari
20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat
622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.
Sementara pada kurun
waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan
terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh,
Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Berikut hal-hal yang perlu anda ketahui tentang penyakit difteri:
Disebabkan bakteri menular dan berbahaya
Guru
Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jose Rizal Latief
Batubara menjelaskan difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae yang menular dan berbahaya.
Penyakit
ini bisa mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas atas a
toksinnya yang bersifat patogen, menimbulkan komplikasi miokarditis
(peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal,
gagal napas dan gagal sirkulasi.
"Difteri itu gejalanya radang
saluran nafas, ada selaput putih dan gampang berdarah, dan toksinnya itu
yang bahaya, bikin kelainan jantung, meninggal," katanya.
Difteri
menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi,
38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna
putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu
menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher
dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.
Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.
Penyakit lama yang muncul kembali
Difteri
sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya
yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga
kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika
diberikan setiap 10 tahun.
"Jadi sebenarnya bukan penyakit baru,
penyakit lama yang harusnya sudah hilang dengan vaksinasi, tapi karena
ada kelompok-kelompok anti vaksinasi yang banyak ini, nggak semua anak
lagi yang divaksin jadinya," ujar Jose.
Direktur Surveilans dan
Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi menjelaskan sejak tahun
1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru
muncul lagi pada tahun 2009.
Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit
Menular Tertentu, apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis dinyatakan
sebagai KLB.
"Satu kasus difteri, baru suspect saja, itu sudah
dianggap kejadian luar biasa, atau KLB, dimana di situ pemerintah harus
memastikan dilakukan tindakan-tindakan supaya tidak menyebar karena
sangat infectious (menular)," ujar Jane.
Penyebab mewabahnya difteri saat ini, menurut Jane, kurang efektifnya upaya-upaya untuk memastikan penyakit ini tidak menyebar.
"Dari tadinya beberapa kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2009, saat ini sudah 20 provinsi dengan 95 kabupaten," jelasnya.
Prosentase meninggal 6%
Dituturkan
Jane, sejak tahun 2015, jumlah kematian akibat difteri meningkat hingga
502 kasus. Untuk tahun ini saja, sejak Januari hingga November tercatat
lebih dari 590 kasus dengan prosentase kematian sekitar 6%.
"Ada
penurunan karena setiap kali ada laporan kasus difteri, maka itu
ketentuannya harus segera diperiksa ke laboratorium, apabila dalam
tenggorokannya ada selaput yang tebal itu, langsung diberi antibiotik.
Sementara orang-orang yang berada di sekitar juga harus diperiksa tanpa
menunggu hasil laboratorium dan diberikan imunisasi tetanus difteri,"
kata dia.
Artinya, orang-orang tersebut divaksinasi ulang tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya.
Indonesia
sudah melaksanakan program imunisasi -termasuk imunisasi difteri- sejak
lebih dari lima dasawarsa. Vaksin untuk imunisasi difteri ada tiga
jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada
usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar
pada bayi (di bawah sayu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib
dengan jarak satu bulan.
Selanjutnya, diberikan imunisasi
lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin
DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis
vaksin DT, lalu pada murid kelas 2 diberikan satu dosis vaksin Td,
kemudian pada murid kelas 5 diberikan satu dosis vaksin Td.
"Sehingga
kita harus memastikan lagi ini semua kita minta masyarakat maupun
petugas kesehatan untuk memastikan anak-anak itu status imunisasinya
lengkap karena pencegahan satu-satunya difteri itu adalah imunisasi dan
kita tahu ada kelompok-kelompok yang menolak dan tidak sadar sehingga
anaknya tidak diimunisasi," jelas Jane. Juga menyerang orang dewasa
Sebelumnya,
kasus difteri banyak terjadi terhadap anak-anak. Namun kini Kementerian
Kesehatan juga menemukan meningkatnya kasus difteri yang terjadi pada
orang dewasa.
"Kita menduga karena imunisasi yang sudah begitu
luas, maka kuman difteri di Indonesia itu nampaknya populasinya sudah
semakin turun. Sehingga diduga booster alamiah sudah semakin kurang
sehingga mulailah ada orang yang sudah dimunisasi dasar, kena," kata
dia.
Di Indonesia, demografi usia yang memiliki kekebalan dasar
rata-rata berusia dibawah 40 tahun. Untuk usia di atas itu, sayangnya,
tidak mendapatkan imunisasi dasar ketika mereka kecil. Mereka lah yang
rentan terhadap penyakit ini. "Di negara maju ada imunisasi tetanus difteri setiap 10 tahun
sampai seumur hidup. Indonesia sedang mengarah ke sana, kita sedang
merancang akan melaksanakan ini,"
Sementara saat ini Indonesia
belum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa, yang dilakukan
Kementerian Kesehatan untuk mengatasi KLB difteri saat ini adalah
menghimbau orang tua, guru, petugas kesehatan, memastikan status
imunisasi lengkap.
"Yang tidak lengkap segera datang untuk
melengkapi. Kemudian jika ada satu kasus KLB, itu langsung diberikan
imunisasi Td di sekitarnya, itu harus, jangan sampai ada yang menolak.
Juga harus ada yang memastikan semua orang meminum antibiotik sampai
selesai dengan begitu kita bisa hentikan penyebarannya."
Kelompok penolak vaksin
Juru bicara Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi menambahkan munculnya KLB Difteri dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.
Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya
akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini
tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir
ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap
imunisasi.
"Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab
rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas
layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan
berbagai penyakit menular, termasuk difteri," ungkap Oscar.
Jose Batubara menegaskan pemerintah harus tegas terhadap kelompok-kelompok antivaksin ini.
"Mesti
dikasih peringatan. Termasuk ada beberapa artis yang hidup dengan
herbal aja, tanpa vaksin. Jadi banyak berkembangnya, tidak hanya di
kelompok Islam, tapi kelompok Kristen juga berkembang," kata dia.
Sumber : http://www.bbc. com/indonesia/majalah-42215042
Jakarta - Dua orang tua yang anaknya dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, mengakui belum memberi imunisasi difteri
kepada anak mereka. Sejak Januari hingga November 2017, RSPI Sulianti
Saroso telah merawat 61 pasien difteri, 3 di antaranya meninggal dunia.
Wajah
Santi Nurhayat, 34 tahun, warga Depok tampak lelah. Sudah empat malam
dia menginap di rumah sakit menjaga anaknya yang dirawat. "Iya agak
kecapekan udah beberapa hari nginep di sini," kata dia di Rumah Sakit
Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Rabu, 13 Desember
2017.
Anaknya yang berumur 3 tahun tengah dirawat di rumah sakit
tersebut sejak lima hari lalu. Santi mengatakan dokter mendiagnosa
anaknya mengidap Difteri.
Santi menceritakan anaknya mulai menunjukkan gejala sejak 6 Desember
silam. Awalnya, si anak hanya demam sekitar 38 derajat Celcius. Santi
lantas memberinya obat dan panas si anak kemudian menurun.
Keesokannya
panas si anak kembali naik. Gejala yang kemudian muncul adalah bibir
dan tenggorokan anaknya memerah. "Bibirnya kayak pakai lipstik.
Tenggorokannya juga jadi merah," kata dia.
Keesokan paginya, Santi
membawa anaknya berobat ke Puskesmas Beji, Depok. Pihak Puskesmas
kemudian merujuk anaknya ke RSUD Depok. RSUD Depok kemudian mendiagnosa
si anak menderita Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Warga
Depok lain, Fachrijal, juga tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso
karena Difteri. Pria berusia 25 tahun itu telah dirawat sejak Ahad, 12
Desember 2017.
Orang tua Fachrijal, Satiyah, 45 tahun mengatakan
pada awalnya anaknya hanya menunjukkan gejala demam dan sakit
tenggorokan. "Awalnya kirain sakit radang tenggorokan doang," kata dia
saat ditemui di RSPI Sulianti Saroso, dua hari lalu.
Satiyah
membawa anaknya berobat ke RSUD Depok yang kemudian merujuk Fachrijal ke
Rumah Sakit Permata, Depok. Rumah sakit mendiagnosa Fachrijal mengidap
Difteri dan merujuknya ke RSPI Sulianti Saroso.
Santi dan Satiyah
sama-sama mengakui belum melakukan imunisasi pada anaknya. Santi
mengatakan faktor ekonomi menjadi alasan dirinya tak melakukan
imunisasi. "Tapi semenjak anak saya sakit sekarang udah diimunisasi
semua kok," kata dia.
Satiyah lupa apakah anaknya sudah diimunisasi atau belum. Seingatnya, semasa sekolah anaknya sering mengikuti imunisasi.
Kedua
orang tua pasien Difteri itu bersyukur bahwa biaya rumah sakit
ditanggung pemerintah. Mereka juga lega kondisi anaknya kini sudah
semakin membaik. "Alhamdulillah anak saya sekarang sudah doyan makan,"
kata Santi.
Difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diptheriae. Bakteri tersebut menular lewat percikan air liur atau muntahan dari pasien yang dibawa oleh partikel debu.
Infeksi bakteri Difteri
ditandai dengan demam sekitar 38 derajat Celcius, sakit waktu menelan,
munculnya selaput di tenggorokan berwarna putih yang mudah berdarah jika
dilepaskan, dan terkadang disertai sesak nafas dan suara mengorok.
Penyakit ini juga sering ditandai dengan pembengkakan di kelenjar getah
bening leher. Sumber : https://metro.tempo. co/read/1042020/belum-imunisasi-dua-pasien-difteri-depok-diisolasi-di-rspi
Jakarta - Pasien difteri yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso atau
RSPI Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, bertambah menjadi 57
orang pada Kamis, 14 Desember 2017. Tiga hari lalu, jumlah pasien difteri yang dirawat berjumlah 33 orang.
Penderita difteri usia anak mendominasi pasien yang dirawat di RSPI Sulianti Saroso, yakni 41 orang. Pasien dewasa naik dari 11 menjadi 16 orang.
Direktur Medis dan Keperawatan RSPI Sulianti Saroso Dyani
Kusumowardhani menuturkan 12 pasien dirawat sejak Selasa, 12 Desember
2017. Sedangkan 12 pasien lainnya dirawat pada Rabu, 13 Desember 2017.
Dyani belum bisa menyebutkan asal daerah pasien. "Masih kami data," katanya saat dihubungi Kamis.
Sejak Januari hingga November 2017, RSPI Sulianti Saroso telah merawat 61 pasien difteri. Tiga pasien di antaranya meninggal.
Saat mengunjungi RSPI Sulianti Saroso, Senin pekan ini, Menteri
Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengatakan pasien yang dirawat di
rumah sakit tersebut berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan
Bekasi.
Nila mengatakan salah satu penyebab banyak anak-anak mengidap difteri adalah mereka belum imunisasi. Hal itu sesuai dengan data Kementerian Kesehatan, yang menyebutkan 66 persen penderita difteri belum melakukan imunisasi. Sumber : https://metro.tempo. co/read/1042172/pasien-difteri-di-rspi-sulianti-saroso-bertambah-jadi-57
Difteri merupakan penyakit infeksi yang
disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah
menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat obstruksi
larings atau miokarditis akibat aktivasi eksotoksin. Pada kejadian luar
biasa (KLB), selain difteri farings, tonsil, dan larings, telah pula
dilaporkan terjadinya difteri hidung dan difteri kulit.
Difteri
sangat menular melalui droplet dan penularan dapat terjadi tidak hanya
dari penderita saja, namun juga dari karier (pembawa) baik anak maupun
dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya.
Kejadian
luar biasa yang terjadi di Jawa Timur dan secara sporadik di daerah
lain (Pontianak dan Banjarmasin) merupakan indikator bahwa program
imunisasi nasional tidak mencapai sasaran. Oleh karena itu, dalam
menghadapi dan mengatasi masalah difteri, kita harus memperbaiki
pelaksanaan program imunisasi secara menyeluruh. Hal tersebut penting
untuk mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan kesehatan,
khususnya dokter spesialis anak.
Analisis Situasi
Merebaknya kasus difteri menimbulkan beberapa pertanyaan bagi klinisi yang harus dikaji mengapa hal tersebut dapat terjadi.
1. Cakupan imunisasi gagal mencapai target
Apakah cakupan imunisasi DPT tidak cukup tinggi untuk mencegah penularan difteri?
Data cakupan imunisasi di Indonesia sangat bervariasi bergantung dari
mana dan oleh siapa survei tersebut dilakukan (78%-90%). Pencatatan yang
dilaksanakan kurang akurat sehingga menghasilkan data yang kurang
akurat pula. Catatan pada KMS atau Buku Catatan Kesehatan Anak tidak
diisi dengan baik oleh petugas kesehatan yang melakukan imunisasi dan
tidak disimpan dengan baik oleh orang tua, sehingga sulit diketahui
apakah imunisasi anaknya sudah lengkap atau belum.
Adanya negative campaign sebagai gerakan anti imunisasi
yang marak akhir-akhir ini telah menyebabkan banyak orang tua menolak
anaknya diimunisasi. Program imunisasi sebagai program nasional
seharusnya diikuti dan dilaksanakan oleh semua masyarakat. Maka kelompok
anti vaksinasi perlu diatasi dengan cara pendekatan tersendiri dan
terencana.
2. Imunisasi gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak
Apakah imunisasi tidak lengkap? Apakah imunisasi ulangan tidak diberikan?
Vaksin DPT merupakan vaksin mati sehingga untuk mempertahankan kadar
antibodi menetap tinggi di atas ambang pencegahan, sangat diperlukan
kelengkapan ataupun pemberian imunisasi ulangan. Imunisasi DPT lima kali
harus dipatuhi sebelum anak berumur 6 tahun.
Apakah
petugas kesehatan tidak memberikan imunisasi pada anak yang menderita
sakit ringan sehingga mengakibatkan pemberian imunisasi tidak sesuai
jadwal atau bahkan tidak diberikan? Kontra indikasi absolut
imunisasi adalah defisiensi imun dan pernah menderita syok anafilaksis
pada imunisasi terdahulu. Sedangkan demam tinggi atau sedang dirawat
karena penyakit berat merupakan kontra indikasi sementara, sehingga anak
tetap harus diimunisasi apabila telah sembuh. Jangan sampai terjadi missed opportunity untuk memberikan imunisasi hanya karena alasan anak sering sakit.
Apakah cold chain di semua fasilitas kesehatan telah diperhatikan dengan baik? Vaksin Bio Farma yang dipergunakan untuk program imunisasi nasional telah dilengkapi dengan vaccine vial monitor
(VVM) yang ditempelkan pada botol vaksin untuk monitor suhu vaksin.
Petugas medis diharapkan memperhatikan VVM, tanggal kadaluwarsa dan
keadaan vaksin (endapan, gumpalan) sebelum disuntikkan. Penyimpanan dan
transportasi vaksin harus memperhatikan prosedur baku cold chain, karena vaksin DPT akan rusak bila membeku atau dibawah 20 C, atau terpapar suhu di atas 80 C. Hal tersebut perlu mendapat perhatian para petugas kesehatan baik di rumah sakit, rumah bersalin, ataupun klinik pribadi.
Penanggulangan dari aspek pencegahan
Upaya
pencegahan harus dilakukan bersama-sama dengan tindakan deteksi dini
kasus, pengobatan kasus, rujukan ke rumah sakit, mencegah penularan, dan
memberantas karier. Upaya pencegahan dapat ditujukan kepada anggota
IDAI dan kepada masyarakat.
Untuk anggota IDAI
a. Jangka pendek
Di daerah KLB dilakukan outbreak response immunization
(ORI), yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT kepada semua anak berumur
<15 tahun yang tinggal di daerah KLB (umur 2-7 tahun diberikan DPT,
>7 tahun diberikan DT atau dT).
Di daerah non-KLB diperlukan
kesiapsiagaan dengan memperhatikan kelengkapan status imunisasi setiap
anak yang berobat. Segera lengkapi apabila status imunisasi belum
lengkap (3x sebelum umur 1 tahun, 1x pada tahun kedua, 1x pada umur 5
tahun atau sebelum masuk sekolah dasar). Selain itu perlu juga
dilengkapi imunisasi yang lainnya.
b. Jangka panjang,
untuk daerah KLB perlu dilakukan gerakan imunisasi terpadu untuk
meningkatkan cakupan imunisasi DPT sehingga mencapai 95% dari target
anak <15 tahun.
c. Seluruh anggota IDAI harus membantu pelaksanaan tindakan preventif dan kuratif terhadap
difteri dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media lokal
seperti radio, TV, surat kabar, atau majalah, serta menyebarkan leaflet
berisi penjelasan tentang penyakit, penanggulangan serta pencegahannya.
d. Seluruh anggota IDAI diharapkan bersedia membantu Pemerintah Daerah
setempat untuk bersama-sama menanggulangi difteri secara khusus dan
meningkatkan cakupan imunisasi di daerah terkait. Kegiatan tersebut
dapat dilakukan dengan kerjasama IDAI Cabang, IDI wilayah, dan IBI
wilayah.
e. Seluruh anggota IDAI memantau adanya kasus difteri di daerah masing-masing dan segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan setempat apabila ditemukan kecurigaan kasus.
Untuk masyarakat
a. Kenali gejala awal difteri.
b.
Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila ada anak mengeluh
nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor),
khususnya anak berumur < 15 tahun.
c.
Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita
difteria agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium
untuk memastikan apakah anak benar menderita difteria.
d.
Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah
harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau
karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan (eritromisin
50mg/kg berat badan selama 5 hari).
e. Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT.
Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing 4 minggu.
Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang),
Apabila telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan 1x.
f.
Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT,
kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT,
yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila
anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat
penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah
atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas
kesehatan terdekat.
Penutup
Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Edukasi
mengenai imunisasi harus senantiasa diberikan oleh setiap petugas
kesehatan pada setiap kesempatan bertemu orang tua pasien.
Seluruh anggota IDAI diharapkan turut berpartisipasi aktif dalam memberantas difteri dan meningkatkan cakupan imunisasi DPT.
Difteri,Tetanus, dan Pertusis (DTP) adalah penyakit berbahaya yang disebabkan bekteri. Anak harus mendapat vaksinasi DTP lima kali pada usia :
2-4-6-18 bulan – (4-6) tahun atau
2-3-4-18 bulan – SD kelas 1
Vaksin DTP dapat diberikan bersama dengan vaksin lain.
Untuk anak usia > 7 tahun diberikan
vaksinasi Td atau Tdap. Vaksin Td/Tdap melindungi terhadap tetanus,
difteri, dan pertusis harus diulang setiap 10 tahun sekali.
Kapan vaksinasi DTP tidak bolah diberikan ?
Anak sakit disertai panas tinggi, pemberian vaksinasi setelah anak
sembuh dari sakit. Pada sakit ringan tanpa demam vaksinasi dapat
diberikan.
Anak yang pernah mendapat reaksi alergi berat setelah vaksinasi
pertama kali dengan DTP, tidak diperbolehkan untuk mendapat vaksinasi
selanjutnya.
Kejang atau pingsan segera setelah vaksinasi dengan DTP
Anak menangis keras dan terus menerus selama > 3 jam setelah vaksinasi
Apa efek samping pemberian DTP?
Penyakit difteri, tetanus, dan pertusis lebih berisiko dari pada efek
samping vaksinasi DTP. Walaupun demikian vaksin seperti obat, dapat
menimbulkan efek samping yang serius seperti reaksi alergi berat (syok)
tetapi jarang sekali.
Efek samping ringan
Demam, terjadi pada 1 diantara 4 anak
Kemerahan dan sedikit bengkak pada tempat suntikan, terjadi pada 1 diantara 4 anak
Rasa sakit pada tempat suntikan, terjadi pada 1 diantara 4 anak
Efek samping tersebut lebih sering terjadi pada vaksinasi ke-4 dan
ke-5; berlangsung selama 1-7 hari (terjadi 1 diantara 30 anak)
Rewe (1 diantara 3 anak)
Nafsu makan berkurang (1 diantara 10 anak)
Muntah (1 diantara 50 anak)
Efek samping di atas timbul 1-3 hari setelah vaksinasi
Kejang 1 diantara 14.000 anak
Menangis terus menerus selama > 3 jam (1 diantara 1.000 anak)
Demam tinggi 39 derajat celcius (1 diantara 16.000 anak)
Efek samping berat (jarang sekali terjadi)
Reaksi alergi berat (syok) terjadi pada 1 diantara 1 juta dosis
Efek samping berat pernah dilaporkan seperti kejang berulang/lama, koma atau kesadaran menurun
Kelainan tersebut jarang sekali terjadi dan mungkin juga bukan karena vaksin.
BAGAIMANA BILA TERJADI REAKSI YANG SERIUS?
Apa yang harus diperhatikan?
Perhatikan gejala yang timbul seperti reaksi alergi berat, demam
sangat tinggi atau perubahan perilaku. Gejala reaksi alergi berat
seperti biduran seluruh badan, edema muka, bengkak bibir, bengkak
kelopak mata, sesak napas, denyut jantung/nadi meningkat. Pusing dan
lemas. Gejala ini timbul segera beberapa menit sampai 2 jam setelah
vaksinasi. (Apabila anda duga reaksi alergi berat segera bawa ke rumah sakit terdekat). Sumber : http://infoimunisasi. com/headline/siapa-yang-harus-divaksinasi-dengan-dtp-dan-kapan-vaksin-tersebut-diberikan/ & Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Jakarta Memasuki musim hujan seperti sekarang ini, kondisi
tubuh anak cenderung menurun dan mudah terserang penyakit. Mereka juga
sangat rentan terkena demam.
Demam sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkan reaksi
fisiologis terhadap perubahan titik patokan suhu di hipotalamus.
Dampaknya, suhu tubuh meninggi dari variasi suhu normal yang berkisar
antara 36,5-37,2.
Walaupun demam bukan penyakit, tetap saja sebaiknya anak terhindar
dari demam agar tetap bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan bugar
dan aktif. Karena itu, orangtua perlu melakukan beberapa langkah
pencegahan agar anaknya tidak terkena demam. Berikut beberapa hal yang
bisa Anda lakukan. Jaga kebersihan tubuh anak
Salah satu penyebab demam adalah infeksi bakteri, jamur, dan virus. Nah,
pada musim hujan, penyebaran bakteri, jamur, dan virus semakin
meningkat. Karena itu, kebersihan diri anak perlu semakin diperhatikan.
Mandikan anak paling tidak dua kali sehari. Saat memandikan, beri
perhatian lebih pada bagian tubuh yang berlipat, seperti ketiak, leher,
dan organ genital. Sebab, biasanya bagian-bagian tersebut mudah
berkeringat, sehingga banyak bakteri yang menempel di sana. Setelah itu,
pastikan anak memakai pakaian yang bersih dan kering. Jangan bawa anak ke tempat ramai
Tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan dan taman bermain,
merupakan sarangnya kuman dan bakteri. Karena itu, sebaiknya jangan
mengajak anak ke tempat keramaian saat musim hujan. Terlebih lagi,
imunitas tubuh mereka belum terbentuk secara sempurna, sehingga mudah
terinfeksi kuman dan bakteri. Rajin cuci tangan
Tak hanya si kecil yang harus sering dicuci tangannya, sang orangtua
juga harus rajin mencuci tangannya. Mereka harus mencuci tangannya
dengan sabun sebelum memegang anaknya. Begitu pula saat mereka mau
memasak dan memberi anaknya makan. Gunakan air matang
Selalu gunakan air yang sudah dimasak saat membuatkan susu atau
memberi anak minum. Hal ini dilakukan untuk membunuh kuman dan bakteri,
sehingga anak bisa terhindar dari demam dan diare. Cuci bersih buah dan sayur
Biasakan cuci buah dan sayur sebelum diberikan kepada anak. Bersihkan
buah dan sayur dengan satu sendok teh garam dan air. Selain itu, jangan
pernah memberi anak buah dan sayur yang belum matang atau sudah
disimpan lama dalam keadaan terpotong.
Lakukan kelima hal tersebut agar anak dapat melewati musim hujan
dengan keadaan sehat bugar. Namun, jangan khawatir, apabila anak
telanjur terkena demam, segera obati anak dengan obat yang tepat.
Jangan sembarang pilih, sebaiknya berikan anak obat yang berbentuk
sirup dibandingkan obat suspensi. Pasalnya, obat sirup tidak perlu
dikocok sebelum diminum, karena kandungan paracetamol-nya larut 100
persen. Dengan begitu, ukuran dosisnya bisa tepat, tidak kurang dan
tidak over dosis.
Salah satu obat sirup yang ampuh untuk mengobati demam anak adalah
Tempra. Obat penurun demam ini mengandung Paracetamol yang cocok untuk
semua usia, termasuk bayi, dan jarang terjadi efek samping. Paracetamol
juga memiliki sifat antipiretik yang mampu menurunkan demam dan
menghilangkan rasa nyeri.
Dikemas secara modern dan higienis, Tempra tersedia dalam dua rasa,
yaitu anggur dan jeruk. Anak bisa memilih sesuai rasa kesukaannya.
Dengan mengetahui langkah pencegahan dan cara pengobatan yang tepat,
Anda dan sang buah hati pun bisa melalui musim hujan dengan tenang. Sumber : http://health.liputan6. com/read/3191554/hindari-anak-dari-demam-pada-musim-hujan-dengan-cara-ini
Jakarta -
Kesehatan merupakan suatu kekayaan. Dalam dunia bisnis, secara
harfiah karyawan yang sehat menghasilkan kinerja yang lebih baik. Hal
itulah yang membuat seorang CEO dari perusahaan di Jepang yang
memberikan waktu liburan ekstra untuk karyawan yang tak merokok, dan
mereka yang berhenti merokok.
Perusahaan pemasaran yang berbasis
di Tokyo, Piala inc, ini memutuskan memberikan cuti tambahan setelah
karyawannya yang tak merokok mengeluh, karena bekerja lebih keras.
Mereka juga mengeluh bahwa karyawan yang merokok menyebabkan budaya
kerja tidak efisien di perusahaan.
"Staf non-perokok kami memberi
pesan di kotak saran perusahaan dan mengatakan bahwa jeda untuk merokok
menyebabkan masalah," jelas Hirotaka Matshushima, juru bicara Piala Inc
dilansir Telegraph.
CEO perusahaan pun setuju atas saran
tersebut. Pihak Piala Inc. memberikan seluruh karyawannya yang tak
merokok tambahan beberapa hari untuk libur atau cuti.
"Saya
berharap dapat mendorong karyawan untuk berhenti merokok melalui
pemberian insentif daripada hukuman atau pemaksaan." ujar sang CEO,
Takap Asuka kepada Kyodo News.
Dalam sebuah kebijakan perusahaan
baru-baru ini, pekerja yang tak merokok diberikan enam hari libur
ekstra. Sejak hari pertama diperkenalkan, kebijakan tersebut pun sukses
besar. Terdapat 30 karyawan perusahaan yang telah berhenti merokok di
tempat kerja, dan setidaknya 4 orang benar-benar berhentik merokok sejak
saat itu. (agm/kik).
Jakarta - Selain menjadi bahaya bagi kesehatan, merokok juga mahal. Hal itulah yang disadari oleh seorang pria asal Malaysia ini. Kisahnya jadi viral di media sosial karena memutuskan untuk berhenti merokok dan menabung uang yang seharusnya dibelanjakannya untuk rokok itu.
Carlos Phang mengaku pernah merokok setidaknya 30 batang rokok sehari. Ia pun terus melakukanya selama 10 tahun, padahal uang yang ia habiskan untuk semua batang rokok itu bisa membelikannya mobil baru atau bahkan rumah.
Meski
awalnya sulit, Carlos berhasil berhenti merokok. Carlos pun
menceritakan pengalamannya di Facebook dan berharap bisa mendorong orang
lain untuk berhenti merokok.
"Selama tiga hari pertama berhenti merokok, lendir terus menetes dari
hidung saya. Saya tak bisa tidur di malam hari dan saya merasa sangat
lesu di tempat kerja. Ditambah lagi tenggorokan saya terasa seperti ad
bulu yang terus menggelitik dan sangat menjengkelkan. Tapi, percayalah,
ini berarti tubuh Anda mengusir racun dan akan menjadi lebih baik,"
cerita Carlos.
Carlos benar-benar berhasil hidup tanpa rokok. Hal tersebut membuat ia mampu menghemat uangnya. Ia berhasil menabung Rp 16 juta dalam enam bulan. Setiap harinya Carlos telah menabung Rp 80 ribu. Jumlah tabungannnya itu pun ia gunakan untuk membeli iPhone 8 Plus.
"Tak ada kata terlambat untuk berhenti merokok, yang terpenting adalah Anda harus bertekad untuk berhenti," imbuhnya. (agm/agm)